Kasih yang TuLus terhadap TuHaN..

April 16th, 2008 by alberth-fransisco

Kisah Nyata..

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur,
Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang
berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak
kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir
sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa
terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?"

"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia
berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyebrang jalan raya sendirian,
setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan
memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."

"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?"

"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku."

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di
depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di
balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di
Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi
aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue
dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan
hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang
yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya..
lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.

Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa
sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak
apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami
akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari
temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa
bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan,
tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya
seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat
menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini
kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah
dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia
memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis
yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia
akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap
menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk
menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira???
Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini
kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

"Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap
hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan
yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang
negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa
memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan
kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan
segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang
yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai
menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku.."

"Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!"

Andy begitu terkejut,"Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia
membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir
lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa
Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah
untukNya.."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang
dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

"Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!"

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya
yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang,
tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang - disitu ada tikungan
yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam
saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut.
Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika.
Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang
tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan
wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan
memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,"Maaf tuan..apakah
anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?"

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang
begitu dalam berkata,"Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang
dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang
tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi
tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang
ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius
berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua
Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?"

"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Ucap ibu Andy terisak.

"Apa katanya?"

Ayah Andy berkata,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat
berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas
meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik.
Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya.
Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut
Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia
membisikkan sesuatu.

"Apa yang dikatakan?"

"Dia berkata kepada putraku.." Ujar sang Ayah. "Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku." Dan sang ayah
melanjutkan, "Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku
menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku
menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta,
tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi
hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku
tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah
berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan
putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda
selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan
lutut gemetar dia berbisik,"Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa…
kecuali dengan Tuhan."

SpeciaL aBouT ouR PareNts

March 29th, 2008 by alberth-fransisco


Special to you.. Mom.. Dad..
LOVE U MOM , I LOVE U DAD..!!!

Waktu kamu berumur 1 tahun , dia menyuapi dan memandikanmu … sebagai
balasannya … kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun , dia mengajarimu bagaimana cara berjalan .
sebagai balasannya … kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih
sayang .. sebagai balasannya … kamu buang piring berisi makananmu ke
lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna … sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan
indah..sebagai balasannya … kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai
balasannya … kamu berteriak "NGGAK MAU …!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola …. sebagai balasannya .kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim … sebagai balasannya…kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun , dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu
.sebagai balasannya … kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau
belajar
Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam
renang sampai pesta ulang tahun .. sebagai balasannya …. kamu melompat
keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu
kebioskop .. sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus
untuk orang dewasa … sebagai balasannya … kamu tunggu sampai dia
keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut
karena sudah waktunya .sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu
mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama
liburan .. sebagai balasannya … kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu …
sebagai balasannya … kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil
…sebagai balasannya … kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa
mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting ..
sebagai balasannya … kamu pakai telpon nonstop semalaman,

waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus
SMA.. sebagai balasannya … kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai
pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu
ke kampus pada hari pertama … sebagai balasannya … kamu minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya … kamu menjawab "Ah,
cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus
untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya … kamu bilang "Aku
nggak mau
seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi .. sebagai balasanmu … kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu … sebagai balasannya … kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya
tentang rencana di masa depan … sebagai balasannya .. kamu mengeluh
"Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu … sebagai balasannya … kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah
satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,
nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu … sebagai balasannya … kamu baca tentang pengaruh
negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan tiba-tiba kamu
teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan

GODAM..!!


MAKA ..


JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA … INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Kisah Pohon ApeL

March 29th, 2008 by alberth-fransisco

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang
senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai
anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh
besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap
harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke
sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu."Aku
ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi
kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu
sangat
senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan
penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang
lagi.
Pohon apel itu kembali sedih.

       

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku
tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,"
kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan
ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga
merasa
bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak
pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya."Ayo bermain-main lagi denganku,"
kata
pohon apel."Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku sudah tua dan ingin
hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau
memberi
aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku
dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar
dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat
kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel
lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit
buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak
lelaki
itu."Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan
padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat
ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah
setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau,
akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan
beristirahat.
Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah
dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa
pun,
orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa
mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa
anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi
begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. 

Note:

Cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya
pada
kita.